Showing posts with label Hutan dan Gunung. Show all posts
Showing posts with label Hutan dan Gunung. Show all posts

Menyepi di Gua Selobale

Menyepi di Gua Selobale

Klotok-Kediri masih menyimpan tempat keren untuk menyepi selain Gua Selomangleng. Yup masih ada Gua Selobale dan Gua Padedean loh Japulers. Namun kali ini kita akan membahas Gua Selobale yang tersembunyi di salah satu ketiak Klotok. Tapi Japulers perlu berjalan selama kurang lebih satu jam dari Jalan Raya Lebak Tumpang dengan mengambil titik start di Bak PDAM Klotok untuk menuju gua indah ini.

Japulers akan melewati semak dan hutan utara Klotok yang tak begitu rapat. Ambil arah ke Puncak Komando, nanti sebelum puncak ikuti jalan lurus menuju utara yang dikenal sebagai jalan sabuk Klotok. Dan teruslah berjalan sampai menemui aliran air lalu mendongaklah ke atas. Kau akan melihat mulut Gua Perwara Selobale. Walau tidak rapat, Japulers akan berkesempatan melihat hewan liar di sini, seperti burung dan ayam alas. Tetapi jangan mengganggu semak atau memutus tunggak bisa jadi di sana ada sarang Tawon. Tawon merupakan hewan buas di sini.


Gua Selobale betul - betul berada di dinding tebing, dan Japulers perlu memanjatnya. Gua ini terlindung oleh tanaman perdu dan semak di sekitarnya, bila musim hujan akan sangat sulit terlihat. Gua ini secara umum sangat teduh dengan bentuk persegi panjang menjorok ke dalam tebing sejauh empat meter dengan tinggi 180 cm dan lebar dua meter. 


Bagian dalam gua ini nyaris tanpa hiasan ornamen apalagi relief. Hanya ada hiasan tempat lampu damar di dinding dalam atau selatan. Hal yang sangat di sayangkan adalah banyaknya bekas congkelan maupun tatahan pada dinding kiri kanan gua ini. Padahal di sini ada bekas sajen dan pedupaan. Konon di dalam gua ini ada patung, yang mitosnya bila bisa mengangkatnya maka akan dapat rejeki. Mau coba ? Tak mungkin karena patunnya entah kemana. Namun ditilik dari lokasinya, gua ini sangat ideal untuk bertapa. Walau cuaca panas di musim kemarau, udara di dalam gua ini masih terasa segar dan nyaman serta masih ditembus sinar matahari walau samar. Selain itu ada sungai di depan mulut gua, yang membentuk air terjun. 


Gua Selobale memiliki tiga Gua Perwara yang ada di tebing seberang sungai. Gua ini konon sebagai tempat penjagaan dari prajurit Sang Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Utama. 


Gua Perwara 1 memiliki bentuk kotak dan terkesan lembab karena tetesan air dari langit-langit dan dinding bagian dalam. Kondisi ini menyebabkan lantai gua tergenang dan berlumpur. Gua ini berbentuk persegi panjang ke samping dengan kedalaman satu meter. Gua Perwara satu dipisahkan oleh sekat sejauh 1 meter dengan Gua Perwara 2 dan 3.


Gua Perwara 2 dan 3 membentuk seperti lubang hidung yang berdekatan dan berbentuk setengah lingkaran dengan kedalaman satu meter. Di depan kedua gua ini ada balok-balok batu berukir serta dua bilah batu geratan. Batu-batu ini belum diketahui fungsi dan kegunaanya.


Dari mulut Gua Utama, Japulers akan disuguhkan pemandangan Sungai Brantas tepatnya di Jong Biru. Artinya walau sedang bersemedi dari tempat ini, petapa masih bisa menyaksikan kondisi kota.



Air terjun sedang mengering di musim kemarau ini bisa jadi keuntungan dan kerugian. Untungnya Japulers bisa menyeberang ke Gua Perwara. Ruginya ya gak bisa mandi hehehe.


Dalam khasanah Perjalan Spritual atau Konsep Mandala, Gua Selobale menjadi mandala tingkatan kedua atau Rupadathu. Berada lebih atas dari Gua Selomangleng, dan memiliki kesederhanaan ornamen dan bentuk memenuhi syaratnya. Orang yang baru belajar tingkatan pertama tentu akan tertarik dengan pelajaran dengan tingkatan berikutnya apalagi setingkat lebih tinggi secara lokasi. Konsep rupa diwakili oleh adanya Gua Perwara untuk penjagaan sang pertapa. Penjagaan dari gangguan fisik dan lokasi gua untuk memantau kota turut menjadi lambang akan kebutuhan rupa atau duniawi. Setingkat lebih tinggi namun belum lepas dari keduniaan atau rupa. Jelas banget kan Japulers cirinya. 


Potret Gua Utama dari sungai, tampak gagah dan eksotik dengan hiasan rumput dari pohon-pohon yang mengelilinginya. Japulers disarankan ke sini musim kemarau, kenapa ? Untuk menghindari jalan tertutup semak dan rawan tak terlihat alias hilang. Well, sebelum pulang cek dulu barang bawaan, termasuk sampahmu. Bawa pulang ya gaes, alam bukan tempat sampah lho. Cintai Negeri, Cintai juga alamnya loh Japulers.


.....

Aku menyapamu wahai sepi
Ajarkan aku tentang berbicara
Bicara pada diri dan pada Ilahi

Aku kembali setelah memutari negeri-negeri
Namun sejatiku ada di sini
Di kamu, di negeri sendiri

Aku pergi kemaren
Justru untuk melihatmu dari jauh
Kadang dekat membuat samar tak jelas
Jauh, membuatnya jelas dan nampak utuh
Aku kembali, aku tak sesal

......

Melawan Dingin dengan Mandi Air Panas di Cangar

Melawan Dingin dengan Mandi Air Panas di Cangar

Terletak di dalam Taman Hutan Rakyat atau yang lebih dikenal dengan Tahura, jalur alternatif Batu menuju Malang melalui Pacet, tepatnya terletak di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Untuk mencapai tempat ini, Japulers harus menggunakan kendaraan pribadi, karena tidak ada angkutan umum. Selama perjalanan panjang ini, pengunjung akan disuguhi oleh pemandangan pohon - pohon hijau yang berbuah apel, jeruk, jambu sampai tanaman sayuran di pinggir - pinggir jalanan Taman Hutan Rakyat ini.
Baca Juga Kuliner di Malang
Sesampainya di mata air panas Cangar, ada 3 kolam utama dengan tempat berbeda - berbeda. Lokasi kolam renang pertama ada 2 kolam renang dewasa dan anak-anak, kolam dewasa besar dan dalam, sedangkan untuk anak-anak kecil dangkal dan aman. Lokasi kolam kedua adalah kolam dengan air panas, diharapkan pengunjung untuk menyesuaikan diri dengan suhu air panas yang ada disini sehingga saat berendam. Lokasi kolam renang ketiga adalah kolam renang yang disediakan untuk anak-anak yang berdekatan dengan taman bermain. Semua air panas di sini adalah aliran air panas murni dari Gunung Welirang.

Tidak perlu khawatir tentang makanan dan minuman karena di sekitar mata air Cangar ada warung makanan yang menyediakan makan siang atau makanan ringan, serta kios menjual souvenir khas Batu. Bisa juga membeli apel terkenal di sini. Selain mandi di pemandian air panas, wisatawan dapat melihat banyak hewan di sekitar pohon di luar area kamar mandi ini. Beberapa di antaranya adalah burung dan monyet liar yang masih dilindungi oleh pemerintah setempat. Silakan kunjungi musim panas Cangar ini untuk menenangkan pikiran, menghilangkan stres, dan menikmati kebersamaan keluarga Anda di sini.

Cunca Wulang, Pesaing Green Canyon dari Tanah Flores

Cunca Wulang, Pesaing Green Canyon dari Tanah Flores

Semua indah di Flores. Dari pantai, dunia bawah laut, budaya, ke air terjun. Air Terjun Cunca Wulang memiliki air jernih yang jernih, tidak ada dua .

Curug Cunca Wulang terletak di Desa Wersawe, Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Jika dijumlahkan, jaraknya sekitar 30 km dari Labuan Bajo. Air terjun ini terletak di antara Labuan Bajo dan Ruteng.

Ada banyak cara untuk mencapai air terjun ini, mulai dari mengendarai mobil, hingga naik sepeda motor. Pilih yang mana saja. Yang perlu diingat, jalan menuju air terjun ini cukup menantang karena berliku dan banyak dilalui oleh kendaraan besar.

Untuk mencapai air terjun ini, pengunjung diminta untuk menggunakan layanan pemandu lokal. Karena rute menuju ke hutan dan melewati jalan setapak sesudahnya. Meski cukup mudah, rute ini cukup melelahkan, hayo sekalian cari keringat. 

Setelah menembus hutan selama 45 menit, akhirnya sampai di area air terjun. Japul jamin, Japulers tidak akan menyesal berkeringat dan lelah selama hampir satu jam. Amazing view.

Air terjun yang meluncur di antara bebatuan besar menghasilkan suara yang khas dari kesibukan. Airnya sangat jernih toska sangat indah.

Salah satu yang tidak boleh dilewatkan ketika Japulers sampai di sini adalah mencoba melompat dari ketinggian. Ada batu setinggi 4 meter yang bisa menjadi lompatan. Byur, air tawar disergap sambil melompat ke dalamnya.

Kampung Adat Bena, Sejenak Merasakan Suasana Zaman Neolitikum


Kampung Adat Bena, Sejenak Merasakan Suasana Zaman Neolitikum 

Keindahan alam Flores yang beragam menjadi magnet yang kuat bagi wisatawan. Tidak hanya alam, pesona budaya benar-benar menakjubkan. Kampung Adat Bena salah satu buktinya. Diperkirakan Kampung Bena telah ada sejak 1200 tahun yang lalu.

Desa adat ini terletak sekitar 18 Km dari Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. Desa ini tidak tersentuh oleh waktu. Masyarakatnya masih mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak ribuan tahun lalu. Berada di kaki Gunung Inerie dan dikelilingi oleh pepohonan, membuat udara di desa ini sejuk dan segar.

Ada sekitar 45 rumah di kampung ini dengan 9 suku yang berbeda. Di antara suku-suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, Ago dan Bena memiliki suku sendiri. Suku-suku ini hidup berdampingan dengan sanak keluarga yang sangat kuat. Bisa dilihat dari kegiatan bersama seperti gotong royong dalam pembangunan rumah dan acara tradisional.
Baca Juga Menyibak Awan, Menjamah Wae Rebo
Wilayah Kampung Bena memiliki bentuk yang unik, yang membentang dari utara ke selatan seperti perahu. Bentuk ini merupakan cerminan dari sifat kerjasama, gotong royong dan kerja keras yang diajarkan oleh leluhur dalam menaklukkan alam, mengarungi lautan hingga akhirnya tiba di desa ini. Masyarakat setempat juga percaya bahwa perahu adalah sarana bagi roh untuk pergi ke kediamannya di akhirat.

Ada beberapa bangunan yang dianggap penting di Kampung Bena. Sebagai rumah miniatur Bhaga yang merupakan simbol nenek moyang para wanita. Dan ada juga Ngadhu, yang merupakan simbol leluhur laki-laki. Bentuknya mirip dengan payung dengan atap yang terbuat dari serat serat dengan tiang yang berfungsi sebagai tempat untuk menggantung hewan kurban saat upacara berlangsung.

Bhaga dan Ngadhu berada di halaman di tengah rumah-rumah tradisional atau juga disebut halaman Kisanatapat. Upacara tradisional yang diadakan di halaman ini adalah upacara sakral. Penduduk setempat percaya bahwa nenek moyang mereka berkomunikasi dengan mereka melalui upacara.
Mumpung di Bajawa, mampir juga ya ke Permata Kabupaten Ngada
Bangunan yang dianggap penting oleh masyarakat Kampung Bena adalah Batu Nabe. Merupakan susunan bebatuan di bawahnya yang ada makam leluhur desa ini. Batu Nabe juga merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan leluhur. Biasanya digunakan oleh sesepuh untuk memecahkan masalah yang dihadapi di desa.

Mengunjungi desa ini sepertinya kembali ke zaman megalitik. Ini ditingkatkan oleh orang-orang lokal yang sangat menghormati Gunung Inerie. Mereka percaya bahwa gunung ini sebagai tempat tinggal Dewa Zeta yang melindungi desa Bena.

Selain gunung, penduduk setempat juga menghormati batu dan binatang karena ini adalah bagian dari kehidupan. Dengan banyak struktur batu yang berasal dari periode megalitik yang tersusun dengan baik, membawa kita ke atmosfer zaman kuno. Ditambah dengan pola kehidupan masyarakat yang masih melekat pada adat istiadat dan budaya yang diwarisi oleh leluhur mereka.

Untuk sampai ke sini dengan mudah, bisa menggunakan ojek untuk mengarahkan ke lokasi. pengunjung akan membeli tiket masuk seharga Rp 20.000. Uang ini digunakan sebagai sumbangan untuk penduduk setempat dan juga pemeliharaan desa. Mari kita rasakan zaman batu di Kampung Bena.

Hujan Abadi Madakaripura


Halo sobat Japulers, pernah merasakan hujan sepanjang tahun ? Pasti enggak lah ya, pasti juga susah banget. Tetapi itu benar nyata di Probolinggo, yup sekitar 15 km utara Bromo ada Air Terjun Madakaripura yang menawarkan hujan abadi. So, Ke Bromo, Jangan Pulang sebelum hujan - hujan. 

Biasanya setelah berdebu - debu seperti di Lautan Pasir Tengger sangat pas untuk maen air hujan, ya itu bisa dilakukan di sini dan searah jalan pulang menuju Surabaya atau Malang via Tongas. Dari Cemoro Kandang arahkan kendaraanmu ke Sukapura, sampai di pertigaan Monumen Roro Anteng - Joko Seger pilih kiri dan ikuti jalan sampai pertigaan Pasar Lumbang, dah tinggal belok kiri ikuti jalan sejauh lima kilometer, Japulers akan sampai di Gerbang Hujan Abadi.



Beberapa meter dari gerbang, Japulers akan menemukan patung Gajahmada dalam posisi sila yang berati petualangan dimulai. Japulers perlu jalan sejauh 500 meter di bantaran sungai yang sudah ditata bagus, dulu kita harus susur sungai loh alias nyemplung di sungainya. Selain itu mulai dari sini siapkan payungmu, bisa buat foto-foto syantik dulu.


Jalan 500 meter tak akan berasa karena hijaunya tebing kiri kanan dengan berbagai jenis ponon membentuk hutan heterogen ala jawa yang menyejukan mata. Belum lagi diiringi suara burung dan deburan air sungai serasa makin syahdu.


Pelan tapi pasti sleret putih mulai kelihatan, yup itu penampakan. Eits itu penampakan air terjun utama Madakaripura setinggi 153 meter sekaligus menjadi air terjun tertinggi kedua di Jatim setelah Air Terjun Tretes Jombang. 

Ok Guys, This.... Madakaripura ! Siapkan Camera dengan pelindung anti airmu !! Siap Basah ya ?? Kita hujan - hujan.


Madakaripura tergolong wisata populer jadi jangan kaget banyak yang ke sini apalagi saat musim kemarau, karena wisata ini sangat apik di musim kemarau. Kenapa ? Air-nya memiliki debit yang pas dan jernih, saat penghujan debit air akan terlalu besar dan berwarna coklat lebih parah sering ditutup demi keamanan. So bagiamapun buatlah seolah kamu sendiri kayak aku hehe...


Model tebing di sini membentuk huruf U , dimana air terjun utama berada diujung, sedang tebing berhadapan juga mengeluarkan air yang lebih kecil debitnya dan dari sini lah hujan abadi itu turun.



Jika cuaca mulai mendung, Japulers harus segera turun jangan berlama-lama karena debit air sangat cepat berubah. Dan segera keluar dari area U tadi. Agar tidak hanyut terbawa air bah. Tau kan kalau tergenang kenangan mantan itu sudah pedih, apalagi hanyut di air bah.


Air Terjun Utama didampingi oleh air terjun pendamping yang debitnya lebih kecil. Gile gan, air terjun aja ada pendamping, agar enggak kesindir bawa pasangan bro ke sini. Saat di area Air Terjun Utama menengoklah ke atas, kau seperti diawasi oleh mata langit yang besar.


Air Terjun Utama tentu menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung, sayang lokasinya sempit. Dan tahanlah untuk tidak berenang di Kolam yang berada tepat di bawah air terjun utama jika kau gak handal berenang atau gampang kram. TETAPI LEBIH BAIK JANGAN. Kenapa ?


Kolam di bawah air terjun utama ini sedalam sebelas meter dengan arus menggulung di bawah air. Artinya akan sangat susah untuk muncul ke permukaan kembali. So nikmati saja dengan mata, jangan menyelam.


Yup sudah sampai ujung tebing, sudah basah - basah. Saatnya pulang. Jangan lupa bawa kembali segala barang bawaan termasuk sampah dan kenangan mantan. Jangan dihanyutin, kasihan sungainya jadi kotor mantan. Hehehe.

....

Tips Ke Madakaripura : 
1. Lihatlah matahari terbit dan puasin maen di Bromo
2. Bawa Payung atau Mantel Plastik
3. Siapkan Kamera tahan air
4. Datang di Musim Kemarau
5. Jangan berenang di Kolam bawah Air Terjun Utama
6. Ikuti arahan masyarakat setempat
7. Bawa kembali segala barang bawaan termasuk sampah dan mantan hehehe

.....

Salam Japulers !

Geopark Ciletuh, Tempat Terbaik Melarikan Diri Dari Jakarta

Geopark Ciletiuh, Tempat Terbaik Melarikan Diri Dari Jakarta

Geopark Ciletuh, Palabuhanratu, secara resmi menerima gelar sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Itu diatur pada pertemuan Dewan Eksekutif 204 UNESCO, Komisi Program dan Hubungan Eksternal, pada Kamis (12/4) di Paris, Prancis. "Proposal itu diterima tanpa perdebatan, yang artinya semua negara menyetujui kawasan Ciletuh, Palabuhanratu, sebagai UGG," kata General Manager Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu, Dana Budiman dikutip dari Press Release, Senin (16/4/2018). . Pertimbangan UNESCO mengakui Ciletuh sebagai geopark dunia, bukan tanpa alasan. Sejak penilaiannya pada awal Agustus 2017, Ciletuh memiliki poin bagus dalam setiap kriteria standar geopark dunia.

Geopark Ciletuh juga dikelilingi oleh hamparan aluvial dengan bebatuan unik dan pemandangan yang indah. Di sisi lain, alih-alih hanaya berbukit yang dimilikinya, Ciletuh juga memiliki pantai dengan ombak yang disukai para peselancar dunia. Ombak bisa dinikmati di Cimaja Beach. Pantai ini sering dipilih sebagai lokasi kontes selancar internasional. Penilaian itu juga mencakup aspek budaya, di daerah 126.100 hektar Sunda masih sangat terasa. Geopark mencakup delapan distrik mulai dari Cisolok (Cimaja Beach) hingga Ujunggenteng (Ciemas), Sukabumi.

Tidak hanya dapat mempelajari adat dan budaya saja, di Geopark Ciletuh wisatawan juga dapat menikmati berbagai atraksi eksotis. Mulai dari keindahan air terjun Awang, Taman Kuno, bukit Panenjioan, dan banyak lainnya. Pemerintah daerah juga menyiapkan masyarakat, mulai dari pembangunan desa yang dibangun, pengembangan geo, pengembangan homestay, dan kebutuhan masyarakat lainnya. Namun, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat setempat untuk membuatnya lebih baik, dan dikenal dunia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan ia yakin jika potensi itu akan membawa geopark ini diakui dunia, seperti Unesco Global Geopark (UGG). Menurutnya, tiga elemen utama geopark dunia telah dipenuhi oleh Ciletuh, dari geodiversity, biodiversity, dan culture diversity.

Blue Fire Kawah Ijen, Bukan Api Birunya Kompor Gas Ya


Blue Fire Kawah Ijen, Bukan Api Birunya Kompor Gas Ya

Kawah Ijen adalah salah satu gunung berapi aktif di wilayah timur Jawa. tujuan wisata minat khusus ini agak menarik, selain tempat yang sangat ekstrim tetapi perjalanan ke kawah bukanlah perjalanan yang mudah

Tapi apa pun api biru atau kawah lava biru akan selalu menjadi magnet yang tidak akan pernah berhenti menarik wisatawan untuk menikmati keindahannya. Selain itu, kawah api biru ijen merupakan fenomena yang sangat langka dan hanya sedikit di dunia.

Lokasi kawah dari kawah ijen itu sendiri terletak di antara perbatasan 2 kabupaten, yaitu kabupaten bondowoso dan banyuwangi. Ada beberapa jalur jika ingin menuju ke kawah ijen, yaitu melalui track situbondo dan jalur melalui banyuwangi, Jika posisimu dalam keadaan Missqueen, maka rute menuju kawah ijen dari kota miskin adalah melalui situbondo.

Jalur utara melalui kota situbondo, hanya menuju ke arah Sempol (Bondowoso) melewati Wonosari kemudian perjalanan diteruskan ke Paltuding. Jarak antara Situbondo ke Paltuding sekitar 93 km dan dengan kondisi jalan mulus, perjalanan bisa ditempuh kurang lebih 2-3 jam.

Rute selatan melalui kota Banyuwangi hanya mengambil jurusan ke daerah Licin yang berjarak sekitar 15 km, Dari Licin langsung ke Paltuding yang berjarak sekitar 18 km. Perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan mobil atau kendaraan dengan gandar ganda.

Perjalanan dari arah banyuwangi memiliki jalur yang buruk dan berlubang bak kena meteor karena dilewati truk penerangangkut belerang setiap hari. tetapi perjalanan yang relatif singkat hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam saja.

Setelah perjalanan yang melelahkan, para pemburu kawah api biru masih akan menghadapi pendakian dari gerbang utama kurang lebih selama 2 jam pendakian. Namun santai saja perjalanan yang lelah akan dibayar dengan sekelompok pencari atau penambang belerang yang selalu ramah menyapa pendaki

Sesekali cobalah untuk menyapa atau sekedar bertanya tentang kawah api biru ijen. Dengan senang hati para penambang akan menjelaskan tentang beberapa fenomena di kawah ijen. Termasuk sejarah di mana pernah terjadi ledakan gas beracun kawah ijen yang pernah mengambil kehidupan beberapa penambang belerang tradisional.

Fenomena kawah api biru ijen adalah fenomena langka yang terjadi di gunung berapi aktif. Itulah yang menyebabkan hingga kini banyak photogrefer profesional yang berbondong-bondong ke kawah ijen ghanya untuk mengabadikan kawah api biru ijen.

Secara umum, gunung berapi akan mengeluarkan lava merah, tetapi tidak seperti kawah ijen yang memancarkan lava biru, hal ini disebabkan oleh tekanan gas sulfur yang sangat tinggi, sehingga ketika gas sulfur bertekanan tinggi terkena lava dan membakar oksigen maka warna api akan didominasi oleh warna biru yang memiliki suhu lebih dari 600 derajat celcius.

Upacara Kasada Tahun 2018 Dilaksanakan Akhir Bulan Ini Lho, Jangan Sampai Kelewatan

Upacara Kasada 2018 Akhir Bulan Ini Lho, Jangan Kelewatan

Suku Tengger adalah sebuah suku yang menetap di sekitar gunung Bromo, Jawa Timur, menempati sebagian wilayah dari 4 kabupaten, yaitu kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Menurut legenda, suku Tengger berasal dari pelarian rakyat kerajaan Majapahit yang tidak sudi Majapahit takhluk oleh Kerajaan Demak.

Bagi suku Tengger, gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setiap tahunnya masyarakat Tengger menyelenggarakan upacara Kasada atau Kasodo. Upacara ini dilaksanakan disebuah pura yang terletak di bawah kaki gunung Bromo bagian utara dan dilanjutkan menuju ke puncak gunung tersebut.

Prosesinya diadakan pada tengah malam hingga dini hari pada saat bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Upacara Kasodo diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng-Jaka Seger dipanggung terbuka yang ada di desa Ngadisari. Lalu tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun atau sesepuh agama dan pemberian berkat untuk seluruh umat di lautan pasir gunung Bromo.
 Baca Juga Romantisme Bromo Di Pagi Hari
Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat di bidang keagamaan dan memimpin upacara-upacara ritual lainnya. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian menghafal dan membacakan mantra-mantra. Bagi mereka, mantra-mantra yang mereka pergunakan merupakan mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya jelek.

Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek atau wadah yang berisi sesaji diusung bersama -sama dari kaki gunung Bromo menuju sisi kawah. Sesaji lalu dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang.


Di sisi dalam kawah sudah bersiap penduduk Tengger dan orang - orang yang mengharapkan berkah dari sesaji yang dilempar. Mereka membawa alat semacam jaring untuk menangkap seaji yang dilempar.

Menyaksikan Langsung Upacara Kasada

Upacara Kasada Tahun 2018 dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juni 2018. Japulers yang ingin menyaksikan langsung upacara kasada segera pesan hotel dan tiket sekarang juga. Jangan lupa juga pesan travel dan jeep untuk acara di bromo nya. 

Jika Japulers ingin berkendara sendiri, ada tiga jalur yang bisa di pilih. 

1. via Pintu Jeplang

Japulers bisa langsung sewa Jeep dari stasiun Malang atau Pasar Tumpang,  walau relatif lebih mahal karena memang menempuh jarak yang lebih jauh untuk sampai ke kaldera bromo +/- 60 km. Dengan motor Trail sewa di sawojajar Malang kota, sehari 250rb.  Sesuai dengan medan dan jalur di kawasan TNBTS pintu jeplang. Banyak tersedia penginapan sejenis homestay di daerah Ngadas. Dari Malang Kota, ambilah jalur ke Tumpang, lalu lanjut ke Gubuklakah, Ngadas, dan sampailah ke Pintu Jeplang.

2. via Pintu Wonokitri

Tidak ada jalur kendaraan umum menuju Wonokitri, kendaraan hanya sampai di Purwosari atau warung dowo saja. Jadi lebih baik Japulers menggunakan kendaraan pribadi atau sewa ya. Penginapan banyak tersedia di kawasan Wonokitri termasuk hotel legendaris Bromo Cottage. Rute yang harus ditempuh jika ingin masuk via Wonokitri adalah, dari Malang Kota ambil arah ke utara, melewati Lawang, Purwodadi, Purwosari, Puspo, lalu Wonokitri. 

3. via Cemoro Kandang

Ini merupakan jalur yang paling direkomendasikan jika Japulers naik kendaraan umum. Naiklah bis dari Terminal Arjosari menuju Terminal Banyuangga Probolinggo, lalu oper ke angkot ELF jurusan Cemoro Kandang. Namun perhatikan, angkot ELF terakhir menuju Cemoro Kandang adalah jam 3 sore. Jadi usahakan sampai di terminal Banyuangga Probolinggo sebelum jam tersebut ya. 
Makan dulu di 8 Kuliner Legendaris di Malang

PENTING

Aturan tambahan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Japulers dilarang  menggunakan motor matic karena tidak boleh masuk kawasan lautan pasir sejak 1 April 2018. Alasanya, karena sudah banyak motor matic yang terjebak di lautan pasir bromo. 

Kawasan lautan pasir tak boleh dimasuki kendaraan pribadi jenis mobil dalam bentuk apapun sehingga harus berganti jeep. Ini sebagai bentuk pencegahan kerusakan alam di kawasan TNBTS.

Untuk berburu matahari terbit sudah ada 4 spot yaitu penanjakan 1, penanjakan 2, bukit kingkong,  dan bukit cinta. Penanjakan 1 akan sangat ramai mengingat merupakan lokasi paling tinggi di kawasan  bromo 2700mdpl. 

Jeep parkir 1 km sebelum titik ini. Akan banyak yang jasa ojek sehingga membuat polusi udara makin buruk,  apalagi tarif yang tinggi cukup menjengkelkan hanya untuk menempuh 1 km saja.  Lebih baik jalan kaki sebagai upaya menghangatkan tubuh. 

Namun jika tidak kuat pilih lah ke bukit kingkong atau bukit cinta yang jalan kaki nya tidak jauh dari parkir jeep.  Ketiga tempat ini berada dalam deret punggungan yang sama hanya kemiringan  titik view ke arah gunung batok menjadi berbeda.

Penanjakan 2 berada pada titik yang lebih rendah daripada ke 3 nya +/- 2500mdpl sehingga biasanya lebih sepi. Namun jeep parkir lumayan jauh dan jalan sangat menanjak. Apalagi jika bangun kesiangan lebih dari jam 3 akan membuat parkir jeep semakin jauh.

Biasanya akan ada penawaran jasa kuda, namun tarifnya cukup mahal, 150rb untuk menempuh separo rute tersebut. Lebih baik simpan uang Japulers untuk sewa kuda dari parkiran jeep ke kawah bromo hanya 125 rb untuk 2 km pp jadi 4 km.  Lah ini 150 rb hanya untuk 500m. Tapi, kalau Japulers emang pengen naik Kuda dan biar bisa di foto dan bisa upload ke Instagram, ya sewa aja. 
Selain itu jalan kaki juga bermanfaat untuk menghangatkan badan. Jangan  lupa bawa senter jika memilih penanjakan 2 untuk lihat sunrise, kenapa? Karena ada persewaan kuda jadi ada ranjau eek kuda hangat siap jadi sarapan kaki Japulers. Hihihi.

Treking di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros

Treking di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros

Menikmati keindahan alam Sulawesi Selatan tak lepas dari keindahan Perbukitan Karst, Rammang-Rammang di Kabupaten Maros. 40km lepas arah utara Makassar, objek wisata ini terhitung mudah dijangkau. 

Rammang yang berarti kabut dalam bahasal lokal, merupakan gugusan gunung kapur terbesar kedua di dunia setelah pegunungan kapur yang ada di Shilin, Tiongkok.
Begitu kita menjejakkan kaki di Rammang-Rammang, kita akan disuguhi pemandangan taman hutan batu. Ibarat di Jakarta kita dikelilingi gedung beton bertingkat, disini Japulers akan dikelilingi bukit-bukit karst yang menjulang tinggi. 
Dengan ratusan batuan kapur pekat hitam dan abu-abu dengan berbagai bentuk dan ukuran, disekitar perbukitan batu terdapat hamparan sawah penduduk dan di belakangnya terdapat sebuah sungai yaitu Sungai Pute. Hutan dan pepohonan lontar di sekitarnya menambah eksotis taman hutan batu di Maros ini. 
Bebatuan katst menjadi latar belakang yang kontras dengan sawah-sawah yang luas, genangan sisa rawa, dan kolam-kolam berhias tumbuhan teratai. Di sekitar Salo Pute, sungai putih, batuan yang terkikis oleh air menjadikannya ukiran-ukiran alam yang unik dan indah. 

Saat Japulers melewati rimbunan pohon, tak jarang hewan endemik asli tempat tersebut seperti burung, kera tak berekor, ayam hutan bahkan ular akan menyambut kedatangan kita.

Perpaduan antara batuan karts yang keabuan, hijaunya sawah warga, rumah-rumah panggung diatas genangan air, menjadikan perpaduan pemandangan yang sangat indah di Maros Rammang-Rammang.

Air Terjun Coban Gintung, Liburan Yang Ga Biasa di Malang

Air Terjun Coban Gintung, Liburan Yang Ga Biasa di Malang

Di tengah rimbunya pohon di dalam hutan terpencil, Air Terjun Coban Gintung begitu anggun tegak berdiri. Debit air yang cukup deras memberikan kedamaian hati yang sudah bosan dengan deru suara bising kemacetan jalan raya, dan ketikan di keyboard komputer kantor. 
Terletak di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, perjalanan menuju ke Air Terjun Coban Gintung tidaklah begitu susah. Menempuh jarak sekitar 70km dari Kota Malang, japulers dapat mengikuti petunjuk arah menuju Kecamatan Turen, Lanjut ke Kecamatan Dampit, dan terakhir Kecamatan Ampelgading. 
Japulers, ketika kita mengunjungi Air Terjun Coban Gintung akan dikenai karcis masuk sebesar Rp10.000, asumsikan naik jadi Rp15.000 ya.

Japulers tidak hanya mendapatkan view air terjun saja, namun juga sebuah goa misterius, Goa Gintung. Goa ini merupakan peninggalan zaman purba. Namun jika ingin memasuki Goa Gintung, Japulers harus meminta izin dulu kepada juru kunci atau pengelola coban ini.